Terungkap, Ini "Kesaktian" Sambo yang Membuatnya Ditakuti Polisi Lain

Ferdy Sambo menjadi sosok yang paling ditakuti para polisi di institusi Polri.


RIAUEXPRES.COM - Mantan Kanit I Satreskrim Polres Jaksel AKP Rifaizal Samual mengungkap rahasia Ferdy Sambo ditakuti anak buahnya di kepolisian sejak awal kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat muncul ke permukaan. Perintah Ferdy Sambo saat itu pun tak bisa dibantah dan ditolak Samual yang kala itu bertindak sebagai penyidik kasus tersebut. Apa sebenarnya kekuatan Sambo?


Fakta itu terungkap di persidangan dalam sidang lanjutan pembunuhan Yosua dengan terdakwa mantan Karopaminal Divisi Propam Polri Hendra Kurniawan dan mantan Kaden A Biro Paminal Divisi Propam Polri Agus Nurpatria di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis, 3 November 2022 lalu. 


Dilansir Detik, Senin, 7 November 2022, Rifaizal saat itu dihadirkan sebagai saksi dari jaksa penuntut umum.


Pada sidang itu, hakim mulanya bertanya tentang sosok atasan Samual yang merupakan mantan Kasat Reskrim Polres Jaksel Ridwan Soplanit. Hakim bertanya sudah berapa lama Samual mengenal Ridwan di institusi kepolisian.


"Pak Soplanit ya, itu atasan langsung saudara saksi?" tanya hakim.


"Betul Yang Mulia," jawab Samual.


"Sudah berapa lama bekerja sama," tanya hakim lagi.


"Saya kurang lebih 5 bulan Yang Mulia," jawab Samual.


Hakim bertanya apakah ada di mana satu waktu Ridwan menjadi ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Samual pun mengamini itu.


"Menurut saksi, apakah Pak Soplanit orangnya peragu atau bagaimana? Atau tegas?" tanya hakim.


"Setahu saya tegas," jawab Samual.


"Tapi saudara mengatakan bahwa ada satu saksi soplanit menjadi ragu-ragu?" tanya hakim.


"Betul," jawab Samual.


Hakim terus mencecar Samual apakah keraguan Ridwan dalam mengambil keputusan itu berkaitan dengan kejadian penembakan di rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga. Samual kemudian menjelaskan kemungkinan keraguan itu muncul karena yang memerintahkan saat itu adalah seorang Kadiv Propam jenderal bintang dua yakni Ferdy Sambo.


"Izin Yang Mulia, izin menjawab. Jadi untuk poin tersebut, ini menurut pendapat saya sebagai bawahan, jadi memang pada saat pelaporan itu saya sampaikan itu emang perintah Pak Sambo pak, jadi mungkin keraguan yang dihadapi beliau adalah yang memerintahkan seorang kadiv propam Pak, mungkin itu," kata Samual.


Di sinilah, Samual mengungkap tak satupun anggota polisi yang bisa membantah perintah Sambo saat itu. Mengingat, kata Samual, jenderal polisi bintang dua di tubuh Polri itu sangat banyak. Akan tetapi, yang menjabat sebagai Kadiv Propam hanya satu dan memiliki kewenangan khusus terhadap polisi umum.


"Siap Yang Mulia jadi, saya sampaikan seperti apa yang saya sampaikan, bahwa seorang Kadiv Propam berpangkat Irjen pol, bintang dua di Polri ini banyak Pak, akan tetapi Kadiv Propam ini hanya satu, kalau di TNI kan ya POM nya TNI, artinya memiliki kewenangan khusus terhadap polisi umum," ungkap Samual.


Samual mengakui dirinya langsung melaksanakan apa yang diperintah oleh Ferdy Sambo saat awal kejadian olah TKP pembunuhan Yosua. Karena menurut keyakinannya, perintah Ferdy Sambo itu sudah benar dan seluruh saksi yang diperiksa saat itu meyakinkan adanya peristiwa tembak menembak di rumah Ferdy Sambo.


"Jadi mohon izin dengan jujur di sini saya menjawab, saya pun ketika diperintahkan beliau langsung laksanakan Pak. Tetapi perintah pada saat itu saya tahu adalah perintah yang benar. Kejadian tembak menembak pada saat itu adalah merupakan suatu hal yang benar. Karena kenapa, karena seluruh saksi meyakinkan seluruh penyidik yang ada di TKP bahwa itu adalah benar peristiwa tembak menembak," tuturnya.


Sekadar diketahui, Hendra Kurniawan dan Kombes Agus Nurpatria Adi Purnama didakwa merusak CCTV yang membuat terhalanginya penyidikan kasus pembunuhan Yosua Hutabarat. Perbuatan itu dilakukan Agus dan Hendra bersama dengan empat orang lainnya.


"Terdakwa dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindakan apapun yang berakibat terganggunya sistem elektronik dan/atau mengakibatkan sistem elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya," ujar jaksa saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Rabu (19/10).


Empat terdakwa lain yang dimaksud adalah Kompol Chuck Putranto, Kompol Baiquni Wibowo, dan AKP Irfan Widyanto, AKBP Arif Rachman Arifin. Mereka didakwa dengan berkas terpisah.


Agus dan Hendra didakwa dengan Pasal 49 juncto Pasal 33 dan Pasal 48 juncto Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dan Pasal 233 KUHP dan Pasal 221 ayat 1 ke-2 juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.***

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Ad