Potret Buram Negeri Wakanda



Oleh Ina Ariani


Baru-baru ini public dikejutkan dengan berita penemuan mayat satu keluarga  tewas di Perumahan Citra Garden I Ekstension, Kalideres, Jakarta Barat, mereka disebutkan sudah tinggal di lokasi tersebut selama 20 tahun lebih. (TRIBUNNEWS.COM)


Miris nya penemuan mayat tersebut baru ketahuan setelah tiga minggu meninggal, itupun karena warga setempat mencium aroma bau busuk dari sebuah rumah tersebut. Dari hasil porensik menyatakan mayat yang meninggal tersebut karena kelaparan, ini dilihat dari otot-ototnya yang mengecil karena sudah lama tidak mendapat makanan dan minuman. 


Hal ini sungguh tragis dan miris, ada apa sebenarnya degan negeri yang kaya raya, dengan penduduk mayoritas muslim? Di mana kepedulian dan hubungan antar sesama, sudah hilangkah kepedulian  dan hubungan sosial kita antar sesama manusia?


Seakan sudah tidak menjadi rahasia umum lagi sistem sekuler kapitalis di ketahui memang merusak tatanan kehidupan, masyarakatnya individualis, tidak perduli dengan sesama, kehidupan dipisahkan dari aturan agama, kemudian kesejahteraan hanya berputar pada kapitalis, para pemilik modal. Tanpa memikirkan nasip masyarakat sekitar. 


Kejadian ini seharus nya membuka mata kita lebar-lebar, kasus ini juga telah menggambarkan  betapa lemahnya peran pemimpin umat dalam bentuk kepedulian terhadap rakyat. Peristiwa ini bukanlah suatu hal yang kebetulan, melainkan ada pengaruh dari sistem yang dijalankan di negeri ini yakni sistem sekularisme. Sistem yang minus dari dimensi ruhiyah, mencampakkan aturan Allah dalam pengurusan kehidupan, dan mengantarkan mereka pada kehidupan yang bebas aturan. Sehingga melahirkan para pemimpin yang minim tingkat keimanannya pada Allah, oportunis, zalim, mengkhianati rakyatnya, ingkar terhadap janji-janji politiknya, krisis empati, dan hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompoknya.


Jika sudah terpengaruh oleh sistem yang rusak ini, maka memang sulit mewujudkan pemimpin yang adil, amanah, dan berpihak untuk kepentingan rakyatnya. Menjadi suatu hal yang mustahil pula untuk memberikan keteladanan bagi rakyatnya.


Islam sebagai agama yang paripurna memandang kekuasaan itu perkara yang penting. Hanya saja, ada faktor lain yang lebih penting yakni menjadikan orientasi kekuasaan ini untuk menegakkan, memelihara, dan menyebarkan Islam. Dengan kata lain, negara menjadikan Islam sebagai satu-satunya aturan yang diterapkan.


Sifat utama seorang Muslim adalah bersikap loyalitas terhadap sesama Muslim. Ketegasan ini bisa dibuktikan dengan sikap ta’awun, berinfaq, sedekah dan lainnya. Selain peduli antar sesama juga harus ada peran serta negara, sebagai Ra'in pemimpin seluruh umat.


Secara kelembagaan, kepedulian muslim bisa disaksikan dengan keberkahan yang dibangun oleh Baitul Maal. Selain itu adalah sikap saling mencintai, kuatnya silaturrahim dan saling bekerjasama, sebagaimana firman Allah Subhaahu Wata’ala.


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا


“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS: An-Nisa : 1).


Dalam sistem Islam, di mana perhatian terhadap tetangga sangat  kuat, bahkan dikaitkan dengan keimanan  Rasulullah SAW juga telah mencontohkan perhatian beliau kepada umatnya dalam kehadiran.


Nabi ﷺ bersabda dalam hadits yang shahih,


مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى


“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari dan Muslim).


” مَا مِنْ ذَنْبٍ أَحْرَى أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يُدَّخَرُ لَهُ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ “


“Tidak ada dosa yang Allah swt lebih percepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta yang tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturahmi.” (HR Tirmidzi)


Hanya dalam naungan Islam lah hubungan sosial kemasyarakatan dapat terjalin dengan baik, bahkan meski berbeda keyakinan. Wallah a'lam bishshawab***




Penulis pegiat literasi Islam asal Pekanbaru

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Ad