Di Mata Survei, Pamor Anies Ternyata Belum Bisa Dongkrak Elektabilitas NasDem

Anies Baswedan, calon presiden yang diusung Partai NasDem


RIAUEXPRES.COM Satu bulan lebih kehadiran Anies Baswedan di Partai Nasional Demokrat (NasDem) dinilai belum mampu mendongkrak elektabilitas partai besutan Surya Paloh tersebut. Sejumlah lembaga survei memprediksi tingkat keterpilihan NasDem di Pemilu 2024 mendatang malah turun.


Hal ini tentu bertolak belakang dengan pamor Anies sebagai salah satu kandidat yang punya elektabilitas tinggi. Hasil survei hampir semua lembaga menempatkan Anies selalu berada di tiga besar bersama Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo. 


Pada 3 Oktober 2022, Partai NasDem diketahui secara resmi mendeklarasikan Anies sebagai bakal calon presiden (capres).


Namun usai deklarasi, berdasarkan hasil sejumlah lembaga survei, elektabilitas Partai NasDem belum menyentuh angka sembilan persen, sebagaimana yang diperoleh pada Pemilu 2019.


Dikutip dari CNN Indonesia, Litbang Kompas memasukkan Partai NasDem ke dalam kategori partai papan menengah. Elektabilitas Partai NasDem hanya 4,3 persen, menempati urutan ketujuh di bawah PKS (6,3 persen) dan PKB (5,6 persen).


Hasil itu diperoleh dari survei yang digelar melalui tatap muka pada 24 September sampai 7 Oktober 2022. Sebanyak 1.200 responden dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi.


Survei ini memiliki tingkat kepercayaan 95 persen, dengan margin of error penelitian sebesar kurang lebih 2,8 persen.


Sementara Hasil survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) memperlihatkan elektabilitas Partai NasDem di angka 5,4 persen, menempati urutan ketujuh. Berada di bawah PKS (6,9 persen) dan Demokrat (5,5) persen.


Survei SMRC dilakukan secara tatap muka pada 3-9 Oktober 2022. Populasi dari survei ini seluruh WNI yang memiliki hak pilih dalam pemilu.


Dari populasi itu dipilih secara random sebanyak 1.220 responden, di mana respons rate sebesar 1.027 atau 84 persen. Margin of error survei dengan ukuran sampel tersebut diperkirakan sebesar kurang lebih 3,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.


Hasil lebih buruk dipaparkan survei LSI Denny JA yang menyatakan NasDem tidak lolos parlemen dengan perolehan 3,9 persen. Berada di bawah PKB (5,9 persen) dan Demokrat (5,4 persen).


Hasil itu diperoleh dari survei yang dilakukan LSI Denny JA dengan metodologi multistage random sampling terhadap 1.200 responden pada 11-20 September 2022. Survei dilakukan sebelum deklarasi Anies sebagai capres oleh Partai NasDem.


Margin of error dalam survei ini kurang lebih 2,9 persen.


Senada, hasil survei Indekstat juga menyatakan Partai NasDem tidak lolos parlemen dengan elektabilitas 2,1 persen. Berada di bawah PKS (6,2 persen) dan Demokrat (5,2 persen).


Survei diselenggarakan pada 10-19 Oktober 2022 dengan melibatkan 1.200 responden yang diwawancarai secara tatap muka. Margin of error kurang lebih 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.



Turun Bukan Faktor Anies

Direktur Eksekutif KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo mengatakan elektabilitas NasDem dalam sejumlah lembaga survei di atas bukan semata-mata pengaruh Anies yang baru saja 'hadir' satu bulan lebih.


"Saya tidak melihat ini semata-mata pengaruhnya Pak Anies. Kalau mau lihat pengaruhnya Pak Anies ya harus dilihat sebelum deklarasi dan sesudah deklarasi," kata saat dihubungi kemarin, Kamis, 10 November 2022.


Menurutnya NasDem selama ini kerap dibandingkan dengan partai besar yang lain seperti PDIP, Golkar dan Gerindra yang kerap menempati tiga besar. 


"Karena ekspektasi terlalu besar. Bahwa ekspektasinya langsung sama dengan Gerindra, Golkar, PDIP, kan beda. Kan di dalam survei biasanya tiga besar itu, bahkan Demokrat itu biasanya hasil surveinya lebih tinggi daripada hasil pemilunya, PDIP juga begitu, sehingga kita harus hati-hati baca hasil survei," ujar Kunto.


Alasan kedua menurut Kunto yaitu pemilu masih lama. Responden, terang dia, belum terlalu fokus pada pemilihan partai politiknya.


"Ini masih jauh dari pemilu sehingga ketika responden ditanya biasanya mereka partai ya seingatnya aja, enggak bener-bener. 'Ntar aja lah nanti kalau urusan partai itu dipikirin serius jika sudah masa kampanye' biasanya kalau ditanya begitu. Jadi, pemilih belum bener-bener fokus pada pemilihan partainya," tutur dia.


Mengacu pada survei yang digelar lembaganya yakni KedaiKOPI, Kunto berujar kecenderungan responden mengubah pilihannya masih sangat besar yaitu di angka 60 persen.


"Jadi, bisa dibilang dari semua angka elektabilitas itu hanya 40 persen yang sudah fix. 60 persennya bisa pindah," kata dia.


Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin mengungkapkan faktor elektabilitas rendah Partai NasDem pasca-mendeklarasikan Anies sebagai capres adalah bisa jadi karena mesin partai belum bergerak.


"Faktor-faktornya bisa jadi kalau kita mengacu pada lembaga survei yang ada ini kalau memang benar seperti itu ya, bisa jadi mesin NasDem belum bergerak, baru awal-awal, semua baru direncanakan, didesain," kata Ujang kepada CNNIndonesia.com.


Ujang meyakini kehadiran Anies akan mendongkrak elektabilitas Partai NasDem jelang pemilu mendatang. Ini senada dengan hasil survei nasional Litbang Kompas yang menyatakan 49,5 persen responden menilai deklarasi Anies sebagai capres bisa menaikkan elektabilitas Partai NasDem.


"Saya melihatnya NasDem enggak mungkin gegabah mengusung Anies kalau elektabilitasnya turun, enggak mungkin. Bisa jadi NasDem punya survei internal sendiri yang dilakukan bahwa mengusung Anies membuat elektabilitas tinggi," imbuhnya.


"Nanti dibuktikan di Pilpres apakah stabil, turun, atau justru naik. Saya sih melihat kemungkinan besar bisa saja naik karena waktunya masih lama," sambungnya.


Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini menambahkan Anies dan Partai NasDem mempunyai kesamaan visi. Hal itu membuat pemilih Anies maupun Partai NasDem tidak terpecah.


"Saya meyakini antara NasDem dan Anies karena pikirannya juga sama, visi mereka juga sama, saya meyakini pemilih NasDem dan Anies tidak berseberangan," tandasnya.



Strategi Menangkan Pemilu

Di sisi lain, sebelumnya, Kunto Adi Wibowo menjelaskan penentuan cawapres pendamping Anies turut berperan penting dalam meningkatkan elektabilitas partai ataupun koalisi partai.


Kunto mempunyai saran agar posisi cawapres Anies diisi oleh tokoh yang mempunyai basis kuat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebab, dua provinsi itu mempunyai pemilih yang besar.


Terlebih, menurut Kunto, Anies sudah mempunyai basis pemilih yang kuat di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Sumatera Barat.


Kunto menjelaskan sosok cawapres dimaksud tak harus dari partai politik.


"Resepnya begini, di mana-mana ketika sudah fix dideklarasikan, dalam artian threshold sudah ada, sudah ada koalisinya, fix dideklarasikan capres dan cawapresnya, biasanya orang mulai serius melihat itu dan otomatis akan mengerek elektabilitas baik capres-cawapres dan partai koalisi pendukungnya," kata Kunto.


Poin kedua adalah NasDem ataupun Anies sebagai capres sudah harus mulai melemparkan gagasan ke publik.


"Mumpung jauh-jauh hari ya katanya kan pemilu berdasarkan gagasan, ya mana gagasannya. Itu bisa membuat pemilih mempelajari gagasannya, lebih 'oh iya bener nih, oh enggak nih' sehingga dialog masih terbuka antara calon pemilih dengan partai ataupun capres-cawapresnya," tandasnya.


Setrategi pemenangan lainnya, Ujang Komarudin menambahkan Partai NasDem harus sering membuat agenda yang bisa mempertemukan Anies dengan calon pemilih. Ia mencontohkan kegiatan di Medan, Sumatera Utara, yang menurutnya berdampak positif.


"Harus mencari momentum dan membuat panggung-panggung bagi Anies di seluruh Indonesia untuk bisa menyapa rakyat. Sama momentum kemarin di Medan itu luar biasa sambutannya. Seperti itu yang membuat NasDem dan Anies semakin besar dan naik elektabilitasnya," tutur Ujang.


"Kalau itu bisa diciptakan di banyak daerah di seluruh Indonesia, tentu elektabilitas NasDem dan Anies akan naik. Akan sama-sama menguntungkan," pungkas Ujang.



NasDem Tak Khawatir

Partai NasDem mengaku tak terlalu khawatir mengenai rentetan survei, termasuk survei LSI yang menempatkan NasDem tak lolos Pemilu 2024.


Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) NasDem, Hermawi Taslim meyakini hasil survei partainya masih akan berubah seiring situasi yang bergerak dinamis.


"Survei itu terus kan bergerak, survei kan memotret kekinian, jadi dia akan terus berubah. Di survei-survei lain NasDem jauh di atas ambang batas parliamentary treshold," ujarnya kepada CNNIndonesia.com awal pekan lalu.


Kendati demikian, Hermawi menyebut hasil survei termasuk dari LSI Denny JA, akan tetap menjadi bahan evaluasi partainya untuk berkonsolidasi. Dia mengaku optimistis NasDem akan masuk jajaran empat partai terbesar di parlemen bahkan jauh di atas hasil Pemilu 2019.


Hermawi juga menegaskan bahwa hasil survei tersebut tak akan mempengaruhi keputusan partainya yang telah mendeklarasikan Anies Baswedan untuk maju di pencalonan presiden 2024.***

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Ad